8 RAMALAN PRABU SRI AJI JOYOBOYO
RAMALAN PERTAMA : "Murcane
Sabdopalon Nayagenggong"
Sri Aji Joyoboyo yang hidup pada
abad keduabelas masehi (1100-an) memprediksi agama Hindu-Buddha berkembang 1000
tahun di Nusantara beserta kejayaan bagi kerajaan yang memeluk agama tersebut.
Seiring dengan perkembangan Hindu-Buddha di Tanah Jawa dan Nusantara juga lahir
pula seorang utusan-Nya pembawa Islam pada 571 Masehi di Mecca yakni Rasulullah
Muhammad s.a.w. sang penerima firman Allah s.w.t. tersusun dalam Al-Qur'an yang
mahasuci didampingi Hadist Nabi yang dimuliakan
Usai 1000 tahun berkembang
Hindu-Buddha maka sudah pada tempatnya giliran bagi yang lain, yakni akan
digantikan oleh Islam sebagai agama negara bagi kerajaan di Jawa dan
Nusantara. Sri Aji Joyoboyo juga menyatakan Dang Hyang Tanah Jawi Sabdo
Palon dan pendahulunya Noyo Genggong akan murca dari marcapada selama
perkembangan agama Islam pada abad kelimabelas masehi (1400-an) yang ditandai
dengan bangkitnya kerajaan Islam di Jawa. Sabdo Palon tidak akan
mencampuri Islam dan perkembangannya di Jawa dan Nusantara demi membikin
manusianya jadi manusia seutuhnya, komplit, dan sempurna
Maka terimalah, sudah menjadi takdir
kerajaan Hindu-Buddha yang gemilang Majapahit berganti kerajaan Islam
pertama di Nusantara Demak. Dan sayang sekali karena baru berdiri kerajaan
Demak yang tidak memiliki angkatan laut sekuat Majapahit harus berhadapan
dengan kekuatan unggul dari Eropa sehingga hanya dapat sedikit menahan
masuknya pelaut bersenjata Portugis, bahkan Portugis berhasil memasuki
Nusantara tanpa menemui lawan tangguh di medan laut. Dan berturut-turut
bangsa Barat berikutnya Belanda bahkan sangat cerdik untuk mengadu
domba kerajaan-kerajaan sisa Majapahit sehingga saling bertempur satu sama
lain. Selanjutnya Belanda tinggal memetik hasilnya yakni menguasai kedua
belah pihak dalam segala hal, terutama mengandalkan keunggulan kekuatan
laut dan persenjataan maju yang berhasil dikembangkan Eropa, mesiu atau
senjata api mulai ukuran senapan hingga meriam
Dengan demikian kekalahan kerajaan
Islam terhadap gempuran bangsa Eropa bukanlah menjadi tanggung jawab
danghyang tanah Jawi Sabdo Palon Noyo Genggong. Dan andai kata kerajaan
Islam atau negara yang menjunjung Islam memperoleh kejayaan maka itu pun
bukan melalui campurtangan sang pepunden Nusantara
Tiap-tiap masa sebuah kerajaan
bangkit dan hancur mengalami hal yang sama dengan siklus bintang. Dan
semua kerajaan di Jawa mengakui Semar sebagai penguasa gaib dari dunia
gaib dengan kemampuan khususnya mengejawantah sebagai manusia biasa.
Semar bisa berperan sebagai abdi, punakawan, dan bahkan penasihat utama
negara. Tokoh ini selalu turut hadir bersama jatuh-bangunnya kehidupan
sederhana maupun sebuah pemerintahan rumit dalam kerajaan. Dan Semar yang
terakhir dalam siklus perkembangan 1000 tahun Hindu-Buddha ialah Sabdo
Palon Noyo Genggong
Armada Laut MajapahitMajapahit yang jaya di laut dan di bumi
Selatan, sementara Tiongkok yang berada di bumi Utara adalah pengimbang
tatanan politik dunia pada masa itu. Bumi Selatan ada dalam genggaman
Majapahit dan dengan keruntuhan Majapahit maka tatanan politik dunia
menjadi jomplang dan dengan mudah pula bangsa Barat berkulit putih
mengkolonisasi bumi selatan mulai dengan Afrika, Amerika Latin, dan Asia
Selatan menjadi jalur tanpa ada penjagaan laut yang kuat
Kehancuran Majapahit oleh
berkembangnya Islam yang masuk ke Jawa adalah sebuah siklus sejarah.
Sabdo Palon Noyo Genggong tahu bahwa Islam harus berkembang di Jawa
dan Nusantara maka dari itu ia bersiap-siap untuk murca dari
peranannya mengawal takhta dalam kurun 1000 tahun terakhir. Dalam
sumpahnya, ia akan hadir kembali dalam jangka 500 tahun, adakah itu
mengisyaratkan Islam akan menemui persoalan rumit setelah berkembang 500
tahun di Nusantara
"Murcane Sabdo Palon Noyo
Genggong" ramalan Prabu Joyoboyo yang pertama memang menjadi
kenyataan tatkala Raja Majapahit yang terakhir Brawijaya memilih
meninggalkan agama negara sendiri dan memeluk Islam. Dengan sendirinya
Sabdo Palon memutuskan untuk menghilang atau murca dengan cara
baik-baik dari hadapan Sri Brawijaya, "Yang Mulia, kami tidak akan
melawan perkembangan sejarah, sejarah yang terus berkembang maju tak
pernah mundur seinci pun itu, dan di hadapan Yang Mulia maka Kami
berjanji akan kembali kelak di mana bumi manusia mengalami
gonjang-ganjing dan segalanya harus dimulai dari awal lagi. Demi
melindungi Tanah Jawa dan Nusantara serta bumi selatan. demikianlah
ucapan terakhir sebagai kata pamit Sabdo Palon. Majapahit tak pelak lagi
meluncur menemui kehancurannya, atas kehendak takdir sejarah
RAMALAN KEDUA : Semut Ireng
Anak-Anak Sapi
Marcopolo penjelajah Italia pada
1292 meninggalkan daratan Tiongkok setelah bermukim sekian tahun membawa
berita dunia menakjubkan bagi benua Eropa. Duaratus tahun kemudian 1492
Christophorus Columbus juga orang Italia mendarat di benua milik bangsa
Indian Amerika Utara dan mengabarkan bahwa dunia berbentuk bulat, bundar
bola
Bangsa Eropa berkulit putih terkenal
sangat rajin dan ulet bekerja bagai semut hitam, dan selalu meminum
susu sapi sejak bayi. Mereka mulai gelisah dan menyiapkan diri dengan
kapal-kapal layar kecil gesit dan cepat begitu mengetahui kabar ada dunia
besar lain penuh tantangan petualangan. Bertahun-tahun mereka perlukan
mendesign kapal yang dipersenjatai untuk mengarungi samudera menemukan
dunia baru dalam rangka mencari bahan mentah baru, dan rempah-rempah dari
sumbernya langsung di dunia Timur atau di belahan dunia lain.
Ramalan Sri Aji Joyoboyo kedua,
"semut ireng anak-anak sapi" telah terbukti kebenarannya
sejak pertama kali dikumandangkan duaratus tahun yang silam
dihitung sejak Marco Polo tiba di Tiongkok bersamaan waktunya
dengan berdirinya Majapahit
Majapahit berdiri 1293 bersamaan
waktunya bangsa Eropa mulai memodernisasi kapal-kapal laut mereka dengan
bantuan orang semacam Marcopolo yang kembali dari negeri Timur terutama
Tiongkok dengan membawa cerita hebat kemajuan teknologi baru dan
menerapkannya di Eropa. Majapahit dan benua Eropa berlomba membangun kebesaran
masing-masing dengan kapal-kapal laut yang siap bertempur di tengah
samudera, Majapahit berada di balik bumi daripada benua Eropa maupun
Amerika. Kelak bangsa Eropa berhasil memasuki wilayah Majapahit Nusantara
tak perlu berperang menghadapi kekuatan hebat Majapahit karena sedang
mengalami konflik intern yang menghancurkan diri-sendiri dalam perang
paregreg. Kekuatan adidaya di bumi belahan Selatan itu hancur sama sekali
sehingga tidak pernah berkesempatan menghadapi bangsa kulit putih yang
datang untuk menginvasi dunia.
Hindu-Buddha Majapahit tergusur oleh
kerajaan Islam yang tidak memiliki angkatan laut yang sekuat Majapahit,
akan tetapi memiliki angkatan darat yang tak kalah hebat dengan milik
Majapahit. Mereka berhimpun dengan kekuatan Islam di mana-mana yang
siap siaga menghadapi bangsa Eropa Nasrani dengan kapal perang
bersenjata yang sulit ditaklukkan di mana-mana. Siapa yang lebih unggul
dalam pertarungan itu? Konflik perang salib di Eropa dan perbatasan dengan
Asia berpindah ke dunia baru, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin, dan
Asia Tenggara serta Asia Timur. Pasukan Tiongkok yang dikirimkan ke
perairan Selatan ( Nan Yang tidak begitu kuat untuk membantu
kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara menahan banjir bandang kapal-kapal orang
Eropa. Tiongkok bahkan berperan dalam merontokkan kekuatan Majapahit
sehingga tak ada tameng di perairan Selatan yang cukup disegani di masa
sebelumnya. Kekuatan Tiongkok lebih dipusatkan untuk menjaga keamanan di
belahan bumi Utara. Sehingga tidak mampu mengisi kekosongan yang
ditinggalkan Majapahit.
Paus Leo X gerah dengan pertikaian
sesama bangsa Eropa Nasrani memperebutkan daerah baru di belahan dunia
lain, sudah menjadi kewajiban Sri Paus untuk mendamaikan hal tersebut
dengan mengeluarkan Jus Patronatus atau Padroado pada 1514.
Spanyol mendapat bagian berlayar ke Barat dan Portugis mendapat bagian
berlayar ke Timur.
Dua kekuatan Nasrani yang berlayar
berlawanan arah ini akhirnya benar-benar mengelilingi dunia dan bentrok
di kepulauan Philipina, Spanyol bertahan di kepulauan tersebut, Portugis
mencelat ke Timor Timur. Dua-duanya berusaha memantau dan tetap
"ndedepi" kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah antara
lain pala, minyak kayuputih, dan cengkeh.
Sementara itu ada sebuah bangsa
Eropa lain, semut ireng paling rajin bekerja: membendung laut untuk
dijadikan daratan dan memiliki sapi penghasil susu paling banyak di
daerah Friesland, dan meminum susunya lebih banyak daripada bangsa lain yakni
bangsa Belanda. Cornellis de Houtman mendarat di Batavia atau Sunda
Kelapa pada 1596. Bangsa yang paling rajin dan tertib administrasinya ini
berhasil menguasai wilayah Nusantara dengan menaklukkan kerajaan Islam
dan sisa-sisa pecahan kerajaan Majapahit: Makasar, Kalimantan, Aceh,
Bali, Papua, dan Nusa Tenggara. Inilah kedatangan bangsa asing yang sudah
diramalkan oleh Sri Aji Joyoboyo limaratus tahun sebelumnya, "semut
ireng anak-anak sapi".
Belanda bertahan menguasai Nusantara
selama tigaratus limapuluh tahun, dan terusir bersamaan waktunya dengan
kedatangan ramalan Joyoboyo keempat, " kejajah saumur jagung karo
wong cebol kepalang alias bangsa Jepang.
RAMALAN KETIGA : "Kebo nyabrang
kali"
Georgi Dimitrov salah satu
petinggi Komintern atau Komunis Internasional dituduh oleh pengadilan
Jerman Adolf Hitler mendalangi sebuah aksi kerusuhan membakar reichstaat
Jerman. Pokok pangkal inilah Hitler telah merekayasa tuduhan yang tidak
terbukti maka dianggap mengumumkan genderang perang terhadap komunisme.
Dimitrov pun memaklumatkan seruan ke
seluruh kubu komunis berperang terhadap fasisme. Maka Jerman menghadapi
lawan tangguh negeri-negeri sosialis dan terutama Sovyet Uni, negeri
sosialis pertama di dunia.
Semenjak krisis ekonomi 1929 Adolf
Hitler tampil memimpin Nazi 1933 dan menggerakkan Jerman dengan fokus
utama industri Jerman ialah membangun kekuatan militer besar-besaran, dan
dalam tempo lima tahun 1938 kekuatan militer yang terkuat di Eropa itu
menganeksasi Austria. Sekutu yang dimotori Inggris dan Amerika Serikat belum
mengambil tindakan sampai Jerman Hitler menyerbu Ceko dengan kekuatan
militer besar-besaran melancarkan dan menguji coba blitzkriegnya yang
gemilang. Akhirnya 3 September 1939 Sekutu mengumumkan perang terhadap
Jerman. Sementara itu berturut-turut balatentara Jerman berhasil
menaklukkan Prancis dan tak ketinggalan Belanda, Belgia tunduk pada
keperkasaan Jerman.
Dalam bayang-bayang pasukan Hitler
yang menggentarkan itu maka pemerintahan kerajaan Belanda mengungsi ke
Inggris, menyeberangi selat Channel. Sementara Belanda bergabung dengan
Sekutu berperang terhadap Jerman, negeri jajahan Hindia Belanda atau
Nusantara mengambil sikap netral terhadap Jerman. Hengkangnya
pemerintah Kerajaan Belanda mengungsi ke Inggris inilah yang telah
diramalkan oleh Raja Kediri Sri Aji Joyoboyo, "Kebo nyabrang
kali."
Hindia Belanda terlalu jauh dari
pasukan blitzkrieg Hitler di Eropa, akan tetapi terlalu dekat bagi sekutu
Jerman di Timur Jauh yakni Jepang. Masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada
giliran terakhir dalam serbuan pasukan Negeri Matahari Terbit itu sekali
lagi pemerintahan jajahan seberang lautan Hindia Belanda mengungsi ke Australia.
Kebo nyabrang kali untuk kedua kalinya. Belanda mengungsi karena sudah
terlalu kenyang mengeruk kekayaan di Nusantara, kekayaan itu disetor
untuk mengenyangkan negeri induk Nederland yang terbukti tidak kuat
bergerak menghadapi serbuan Jerman. Sama halnya negeri induknya Hindia
Belanda yang kekenyangan tidak mampu menghadapi pasukan Negeri Sakura
yang beringas masih kelaparan menyedot semua sumber daya alam dan
kekayaan negeri yang ditaklukkannya.
Hengkangnya pemerintah pusat
kerajaan Belanda dan juga pemerintahan jajahan mengungsi menyeberangi
lautan itulah yang sudah diramalkan oleh Joyoboyo raja Kediri delapan
ratus tahun yang silam.
Hindia-Belanda tidak sendirian
menghadapi serbuan Jepang, juga Inggris di Malaya, Singapura, dan pasukan
Prancis di Indocina serta Amerika Serikat di Filipina. Semua saja
menyeberangi lautan untuk mengungsi menyelamatkan ekor sendiri
meninggalkan anak jajahan diambil orang lain.
Seekor kerbau punya hobi mandi di
kubangan yang berisi air, apalagi di sebuah sungai yang melimpah-ruah
airnya, ia tidak mungkin mau mentas dan menyeberangi sungai tanpa alasan
yang luarbiasa. Alasan agar seekor kerbau menyeberangi sungai cuma dengan
dipaksa atau terpaksa saja. Karena kerbau yang sudah kenyang makan dan
kenyang berendam di air akan cenderung bermalas-malasan saja. Dan yang
memaksa kerbau Belanda hengkang ialah kekuatan militer unggul dari bangsa
lain. Sementara kekuatan militer sendiri tidak siap digunakan
menghadapi serbuan dari luar semacam itu, melainkan hanya dipersiapkan
dan digunakan untuk menindas pribumi jajahan yang tidak bersenjata dan
lemah dari segi apapun. Pasukan militer Belanda punya kemampuan militer
hanya sekelas menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Belanda lebih
menggunakan akal yang diwujudkan dengan politik pecah-belah dan
kuasailah. Dan terutama berkat bantuan Pribumi sendiri yang lebih memilih
berpihak pada kekuatan asing.
Pasukan blitzkrieg Jerman akhirnya
gagal menghadapi Tentara Merah di front Timur dalam daerah Uni Sovyet.
Kekalahan di Russia itu menyebabkan keruntuhan kekuatan Jerman, dan
Hitler bunuh diri atau dibunuh oleh pihak tertentu. Dengan demikian pada
akhirnya pasukan militer Jerman menyerah pada Sekutu setahun lebih dulu
daripada menyerahnya kekaisaran Jepang pada Amerika Serikat karena
ledakan bom atom di jantung kota Jepang yang dijatuhkan dari pesawat
militer Amerika Serikat. Sovyet Uni atau Uni Sovyet yang berada di pihak
Sekutu ikut berhak keluar sebagai salah satu negeri pemenang Perang Dunia
Kedua, dunia komunis mendapat kehormatan dengan keunggulan pasukan Merah
Uni Sovyet. Dan anugerah kemenangan itu juga dipersembahkan bagi petinggi
Komintern Georgi Dimitrov yang gagah berani membela Komintern dan
komunisme di depan pengadilan fasis Jerman Adolf Hitler atas tuduhan
palsu hasil kerja rekayasa intelijen Nazi Jerman dalam mengenyahkan hantu
komunis sejagad.
RAMALAN KEEMPAT : "Kejajah
saumur jagung karo wong cebol kepalang"
8 Maret 1942 Balatentara
darat, laut, dan udara Dai Nippon dan pasukan sipil bunga Sakura yang
berani mati dan selalu menang dalam pertempuran melawan bangsa Barat
mendarat di segenap penjuru wilayah Nusantara. Lunaslah ramalan Joyoboyo
keempat, "kejajah saumur jagung karo wong cebol kepalang".
Tentara Kerajaan Belanda tidak kalah gagah-berani menghadapi pasukan dari
negeri Asia yang pernah menaklukkan Manchuria, wilayah kerajaan Tsar
Rusia pada 1904-1905.
Semangat tentara kerajaan masih
kalah dengan tentara kekaisaran Matahari Terbit, Dewa Amaterasu berpihak
pada sang penyerbu dari Utara. Sejak masa kuno orang-orang di Nusantara
sudah diperingatkan oleh nenek-moyang agar selalu waspada terhadap
arah Utara, karena dari sanalah musuh datang menyerang, dari Utara
juga bencana bakal datang di Tanah Jawa. Oleh sebab itu ada sedikit
peninggalan warisan leluhur sejak seribu tahun silam atau masa Prabu
Joyoboyo dari kerajaan Kediri bertakhta, yakni, "jangan membikin
tungku atau luweng untuk memasak mulutnya menghadap ke Utara." Satu
lagi, "jangan membuat kakus atau wc yang posisi orang yang
mendudukinya sampai menghadap ke arah Utara."
Bahkan seorang pujangga
masyhur Nusantara menulis soal arus balik dari Utara yang terus mengalir
ke Selatan: ilmu pengetahuannya, budayanya dan barang-barang dagangannya.
Sebaliknya di masa keemasan Majapahit, dan bahkan sejak jaman kerajaan
Srivijaya arus mengalir ke Utara: ilmu pengetahuan, budaya, dan
barang-barang produk unggulannya.
Hinomaru berkibar di seluruh
Pantai Timur benua Asia sampai ke lautan Pasific di Timur Papua.
Terbentuklah garis pertahanan militer yang sangat lebar dan sulit dijaga
dari serbuan pasukan Sekutu yang dipimpin negeri Paman Sam.
Berturut-turut hengkang dari wilayah koloni atau jajahannya: Prancis di
Indocina, Belanda di Hindia Belanda, Inggris di Malaya, dan Singapura.
Bangsa Jepang berhasil mengubah peta politik dunia, khususnya di Asia.
Prabu Joyoboyo sudah
mengidentifikasi bangsa cebol kepalang ini seribu tahun yang lalu bakal
menjadi superpower di bidang militer. Dalam pandangan Jawa yang kecil
akan mengalahkan yang besar, orang cebol kepalang atau bertubuh
pendeklah yang bakal mengalahkan orang-orang besar dari Barat.
Pribumi Nusantara yang
terpuruk melata di bawah kaki bangsa Barat selama tigaratus limapuluh
tahun mendadak sontak dibangunkan dari tanah dengan didikan pasukan
Jepang yang keras dan tak kenal ampun. Senjata mulai diberikan kepada
Pribumi yang mau berjuang bersama Jepang untuk menghadapi bangsa Barat
atau Sekutu. Korban selama masa pendidikan militer Jepang berjatuhan,
kesengsaraan hidup melanda rakyat di segenap wilayah Nusantara. Kelak
buah kesengsaraan itu yang diawali hengkangnya bangsa Barat membikin
Pribumi harus berdiri di atas kaki sendiri di atas tanah tumpah darah
negeri sendiri dan memerintah bangsa sendiri, semua itu dapat ditempuh
dengan merebut kemerdekaan dan kedaulatan ibu pertiwi Nusantara.
Dai Nippon diramalkan menjajah
Nusantara selama seumur benih jagung dapat disimpan, tiga setengah tahun! Dai Nippon yang bergabung dengan Jerman Hitler masih
terus berjuang sendiri dengan ulet dan tekun. Sekutu merasa biaya militer
sudah terlampau besar dikeluarkan di medan Eropa menghadapi Jerman dan
sekutunya. Untuk menaklukkan pasukan Dai Nippon yang memiliki garis
pertahanan begitu panjang di Asia Timur dan sebagian kepulauan di Pasifik
pada akhirnya Sekutu atau Amerika Serikat memilih menggunakan cara
ekonomis dan praktis: meledakkan bom nuklir di jantung wilayah Jepang.
Walhasil pemenang perang dunia kedua yang sejati adalah senjata nuklir
dan bukan Amerika Serikat. Pasukan Amerika tidak mati-matian dalam
mengalahkan Jepang dengan cara yang umum dan terhormat.
Jepang tidak sepenuhnya kalah
di medan peperangan akan tetapi kalah karena atas instruksi pimpinan
tertingginya Kaisar Jepang.
Bangsa cebol kepalang itu
selama menduduki Jawa dan Nusantara menghadapi lawan-lawan tangguhnya:
partai komunis Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, partai
sosialis, partai nasionalis, dan orang-orang Islam progresif lainnya, dan
tentu saja segenap rakyat Nusantara. Segenap komponen perlawanan
itu telah memilih pemimpin mereka: Bung Karno. Bung Karno tidak
terang-terangan memusuhi Jepang, akan tetapi mengambil taktik berpijak di
dua tempat sekaligus. Kaki kiri berada bersama pasukan Dai Nippon, sementara
kaki kanannya bahu-membahu melawan Jepang dengan berbagai cara bersama
pejuang Pribumi lainnya.
Bung Karno tahu siapa-siapa
yang berjasa dalam merebut kemerdekaan, orang komunis, orang nasionalis,
dan orang sosialis, dan orang Islam dan seterusnya.
Dai Nippon menyerah kepada bom
nuklir milik Amerika Serikat pada 14 Agustus 1945. Pemenang perang dunia
kedua lainnya Sovyet Uni dedengkot negeri komunis pertama di dunia
rupanya tidak dapat hidup berdampingan secara damai dengan negeri
kapitalis lainnya, karena sudah sejak manifes komunis diluncurkan pada
abad kedelapan belas hantu komunis tidak pernah ditolerir oleh paham lain
di dunia ini. Sasaran tembak Amerika adalah negeri komunis Soviet Uni
dan berakibat timbulnya Perang Dunia Dingin. Dua ideologi
mengelompokkan diri masing-masing dengan memilih salah satu pihak. Slogan
Amerika lebih keras lagi, "berkawan dengan kami memusuhi komunis
atau menjadi musuh besar kami." Tidak adanya pilihan netral
sama sekali.
Imbas Perang Dunia Dingin itu
sangat mewarnai kemerdekaan yang akhirnya dikumandangkan oleh Penyambung
Hati Rakyat Indonesia: Soekarno didampingi M. Hatta. Semasa pendudukan
Jepang keduanya sudah sering menyusun strategi bersama menghadapi masa
depan. Mereka dalam menyikapi Perang Dunia Dingin mengambil sikap
berlawanan. Bung Karno bersikap Netral sementara Hatta memihak memusuhi
komunis. Dua peran antagonis dari kedua proklamator RI itulah yang pada
akhirnya melahirkan drama-drama perang kemerdekaan yang memilukan. Bangsa
sendiri bertempur dengan sesama saudara sendiri.
Perang saudara antar bangsa
sendiri sejak perang kemerdekaan ternyata terus membesar dan puncak
klimaksnya termaktub dalam ramalan Joyoboyo kelima, "pitik tarung
sak kandang."
RAMALAN KELIMA : "Pitik tarung
sak kandang"
Pada 30 September 1965 di lapisan
stratosfir langit malam, pada radius tiga kilometer dari kraton Sri Aji
Joyoboyo, para penduduk menyaksikan "lintang kemukus" bergerak
pelahan ke arah utara. Benda langit cerah bersinar persis pesawat angkasa luar
yang diidentifikasi selama berabad "lintang kemukus" yang bergerak
lambat di langit itu menjadi pertanda datangnya peristiwa besar di jagad
manusia.
massa PKI Malam-malam perburuan 20 juta anggota komunis di
Nusantara mulai dicanangkan. Partai komunis ketiga terbesar di dunia berada
dalam kepungan negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sepuluh tahun yang
silam kaum komunis berhasil menempati anak tangga keempat dalam pemilu paling
demokratis di negeri Pancasila, suatu sintesis ideologi-ideologi yang ada di
gelanggang politik dunia dicetuskan Bung Karno, penyambung hati rakyat
Indonesia.
Sri Aji Joyoboyo seorang putra dari
cinta sejati Dewi Sekartaji dan Inu Kertapati, kedua remaja pilihan ini adalah
putra mahkota dari dua kerajaan di tepi sungai Brantas. Perkawinan kerajaan
yang mereka jalani sebelumnya penuh dengan drama percintaan paling dikenang
selama berabad oleh penduduk Jawa bagian Timur.
Dewi Sekartaji dan Inu Kertapati
yang belum bertemu satu sama lain sempat menolak perjodohan dua kerajaan atas
diri mereka. Dewi Sekartaji mengembara bertahun-tahun, demikian pula Inu
Kertapati, keduanya remaja paling cantik dan paling tampan di kerajaan Daha dan
Jenggala. Singkatnya mereka akhirnya bertemu di pulau Dewata dan saling jatuh
cinta satu sama lain. Perkawinan pun berlangsung meriah, dua kerajaan
digabungkan, dan dari hasil cinta sejati mereka lahirlah seorang manusia unggul
Sri Aji Joyoboyo yang kelak marak menjadi raja kerajaan Kediri. Dalam masa
pemerintahannya sastra dan seni berkembang luar biasa pesatnya. Perkataan yang
berwujud ramalan-ramalan dari segenap cerdik-pandai di seluruh negeri
dikumpulkan dan dipilih yang terbaik untuk dipersembahkan kepada yang mulia Sri
Aji Joyoboyo. Dengan bahan melimpah itulah sang raja besar itu mempublikasikan
ramalan kelima "pitik tarung sak kandang" untuk menggambarkan perang
saudara masa depan di tanah Jawa.
Gerakan september 1965 memicu
pertarungan dua ideologi yang bertentangan, di satu sisi kubu materialis, yang
diwakili oleh 20 juta komunis, di sisi lain terdapat kubu idealis, yang
diwakili 60 juta muslim. Kaum komunis menggunakan sistem filsafat materialisme
dialektis. Kaum muslim masuk kubu idealis. Jika kedua sistem itu berhadapan
dalam realitas kehidupan maka yang terjadi adalah pertentangan paham, tidak
kurang-kurangnya Bung Karno berusaha mendamaikan pertentangan komunis dan Islam
dalam wadah Nasakom, lebih lanjut lagi di forum legislatif dibentuk kabinet
"gotong-royong". Usaha kecil Bung Karno yang memiliki visi luar biasa
sejak 1926, berusaha menghindarkan terjadinya "pitik tarung sak
kandang". Bung Karno sangat menguasai ramalan Sri Aji Joyoboyo tersebut.
"Pitik tarung sak kandang"
artinya ayam peliharaan yang setiap pagi dan petang berada dalam ruangan yang
sama. Ayam dalam satu ruangan itu setiap hari hidup rukun di luar ruangan.
Kandang di sini bukan kandang yang rapat, ayam yang dipelihara penduduk di Jawa
biasanya dibuatkan pijakan-pijakan bambu atau kayu untuk tidur si ayam. Ayam
tersebut bebas keluar masuk ruangan kapan saja atas kemauan sendiri. Mereka
berada dalam rumah yang sama dan hidup rukun. Sangat jarang terjadi ayam dalam
satu "kandang" saling berkelahi di dalam kandangnya. Bahkan tidak
pernah terjadi perkelahian ayam dalam kandang bebasnya itu. Perkelahian kecil
biasanya rebutan tempat "mangkring" yang kuat, ayam dewasa, memilih
berada di depan. Ayam muda oleh pemiliknya dipisahkan, dikurung tersendiri.
Dalam kandangnya puluhan ayam itu
tidak pernah berkelahi karena mereka hanya berkumpul pada petang hari untuk
mulai tidur malamnya yang berlangsung hingga subuh. Saat mereka terbangun dan
keluar kandang itulah sang pemilik menjamu santapan pertama, selanjutnya
terserah anda mau cari makan di mana.
Dalam enam bulan saja komunis
dibantai lawan-lawannya, segenap peranan mereka telah disingkirkan dari
pemerintahan, pers, dunia pendidikan dengan memenjarakan tanpa proses
pengadilan. Jutaan pegawai aparat pemerintah Bung Karno tidak perlu dibayarkan
pensiun mereka, walau sudah bekerja sejak perang kemerdekaan. Sangat ekonomis!
Pembantaian kaum komunis yang tengah
terjadi itu adalah hasil provokasi oleh oknum yang dimaksud dalam ramalan
keenam sri Aji Joyoboyo: "kodok ijo ongkang-ongkang", yang berkuasa
tepat selama empat windu. "Kodok ijo ongkang-ongkang" dibantu oleh
pihak asing yang tengah menjalankan doktrin McCarthy, membasmi komunis dari
muka bumi.
Komunis Indonesia musnah tak bersisa
yang tersisa onggokan arang yang mengepulkan asap tipis. Di musim penghujan
bakal tumbuh tunas baru di tumpukan berwarna hitam itu, karena negeri Nusantara
sangat subur untuk mengubah kegersangan menjadi hijau kembali dengan tumbuhnya
beraneka tanaman baru, termasuk yang sudah dianggap musnah.
RAMALAN KEENAM : "Kodok ijo
ongkang-ongkang"
Partai Komunis Indonesia hancur
berantakan dalam semalam, bahkan tanpa seorang pun pasukan Amerika
Serikat nongol di sini untuk turun tangan langsung. Di Vietnam sana di
waktu yang bersamaan pasukan Amerika Serikat sudah lebih dari setengah
juta pasukan bekerja keras turun tangan langsung dalam membasmi orang-orang
komunis Vietcong. Usaha Amerika itu tidak juga berhasil mengatasi
terowongan tikus orang Vietnam yang tersohor itu. Tidak cukup dengan
pasukan militer, juga ikut diterjunkan ke medan pertempuran Vietnam
segala jenis senjata modern, senjata kimia, senjata biologi semua saja
ditujukan untuk membasmi manusia komunis Vietnam. Amerika gagal
menghadapi pasukan komunis Vietnam, karena orang-orang komunis Vietnam
lebih unggul daripada orang-orang komunis Indonesia yang masih dibangunkan
oleh Bung Karno nasion dan character rakyatnya. Paman Ho atau Ho Chi Minh
lebih berhasil membangun character dan nation rakyat Vietnam. Paman
Ho mendapat bantuan dari tetangga akrabnya Republik Rakyat Tiongkok yang
dikomandani Kawan Mao Dze Dong yang masyhur dalam memimpin Tentara Merah
Tiongkok berhasil mengalahkan pasukan Chiang Kaishek, Kuomintang dukungan
Amerika Serikat.
Jangan dilupakan peran sentral
Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok yang disebut-sebut lebih dulu
menjadi anggota PKT daripada sang ketua Mao sekitar 1921. Kawan Zhou dan
Paman Ho dekat sekali hubungannya terutama tatkala Vietnam membutuhkan
sokongan moril maupun materil dalam menahan serangan pasukan militer
Amerika Serikat pemenang perang dunia kedua, kekuatannya tak diragukan
lagi.
Ramalan keenam Joyoboyo, "Kodok
ijo ongkang-ongkang" bisa berarti berkuasanya kaum hijau yang
juga bisa berarti hijau daun atau hijau berlian. Hijau berlian berarti
simbol pakaian militer angkatan darat (AD).
Kodok ijo mengeluarkan suara dari
kantung udaranya dan terdengar, "oooong....kaaaang, oong...
kang.....ong....kang.". Suara sang kodok itu di musim banjir
penghujan sangat riuh-rendah, bahkan ribuan kodok ijo berkumpul menjelang
hari mulai gelap untuk melantunkan orchestra simfoni, "ong-kang-ong-kang"
mengisi keheningan malam basah oleh banjir atau hujan terus-menerus. Sang
kodok begitu riuhnya memperdengarkan kemerduan suaranya dengan satu
tujuan menarik lawan jenisnya untuk dikawininya.
Tanpa ada air melimpah ruang
di kebun atau di halaman rumah atau di tegalan, maka tak akan datang
kodok ijo dan riuh-rendah sepanjang malam bersimfoni ria. Banjir darah
akibat gerakan September 1965 mengundang militer angkatan darat turun ke
arena untuk mengambil alih kekuasaan di Nusantara dari tangan Bung Karno
yang berusaha membikin keseimbangan antara PKI dan AD.
Dengan sendirinya AD yang hijau itu
menjadi kekuatan dominan di Nusantara dan mendukung penguasa baru Jendral
Suharto yang fasis dan otoriter sehingga berhasil berkuasa selama empat
windu untuk membikin rakyat Nusantara seragam berfikir dan berbuat dalam
hidupnya. Mau coba pikiran dan suara lain, hadiahnya penjara. Kalau agak
ringan kesalahannya akan mendapatkan hadiah "diponggal-panggil"
koramil atau kodim. Di sana dapat bogem mentah atau tidak itu lain
perkara lagi.
Masa rejim "kodok ijo
ongkang-ongkang" tidak berarti militer terutama AD hanya
ongkang-ongkang kaki saja, tidak. Justru AD bekerja keras untuk tetap
menjaga bahaya laten komunis yang baru saja dikalahkan oleh AD sendiri. Komunis
yang tumpas sampai ke akarnya berkat mantra sakti Jendral Soeharto,
"tumpas habis sampai tujuh turunan" siapa saja yang terlibat
komunis, selalu bekerja keras mencegah bangkitnya komunis di negeri
Nusantara yang berubah menjadi negeri tergantung sejak masuknya modal
asing akibat dibukanya keran modal oleh Jendral Besar Soeharto yang
membikin sebagaian rakyat memujanya mampu membikin rakyat sejahtera.
Akan tetapi sayang sekali
slogan "awas bahaya laten komunis" itu terlalu berlebihan
dikoar-koarkan selama Jendral Soeharto berkuasa. Padahal sudah jelas bin
gamblang komunis sudah hancur tak punya kekuatan apapun, eeeeh kok
menakuti rakyat banyak akan bahaya komunis yang cuma pepesan kosong itu.
Eiit itu bicara waktu itu lho. Entah kekuatan mereka saat ini 2010.
Ujung-ujungnya intimidasi dan teror kepada rakyat, dan ujung-ujungnya
lagi Bapak Pembangunan itu terus terpilih dan terpilih lagi jadi Raja eh
Presiden RI.
Prabu Joyoboyo hampir seribu tahun
yang silam sudah meramalkan datangnya penguasa militer baru berbusana
hijau, yakni AD. Ceritanya sang penguasa itu muncul setelah terjadinya
perang saudara di Nusantara dalam, "Pitik tarung sak kandang".
Setelah sang kodok tidak berkuasa lagi tampillah rejim baru yang disebut
rejim reformasi. Apa yang terjadi, "kodok ijo, kodok bangkak, kodok
percil, dan kodok pohon, dan lainnya ramai-ramai memperdengarkan suaranya
tanpa hambatan lagi datang dari manapun. Dan ujung dari kebebasan itu
ialah eyel-eyelan untuk menonjolan pendapat sendiri yang belum tentu
benar
RAMALAN KETUJUH : "Tikus Pithi
anoto baris"
Ramalan ketujuh Sri Aji Joyoboyo
(1145-an): Tikus pithi anoto baris interpretasinya tikus merah menyusun
barisan! Merah tatkala masih bayi belum tumbuh bulu, dan kelak menjadi hitam
oleh bulunya sendiri. Sifat utama tikus phiti antara lain: gesit, semau
sendiri, susah diatur, dan lucu. Tikus phiti pandai menyembunyikan diri akan
tetapi belum mampu bikin persembunyian sendiri, yakni berupa lubang-lubang
dalam tanah, atau membikin sarang dari bahan yang ada di sekitarnya. Manusia
tanpa alat bantu susah untuk menangkap dan memburu makhluk yang satu ini.
Tikus yang satu ini benar-benar
menyusun barisan bila pemimpin besarnya (induknya) dibunuh atau melarikan diri
karena diuber-uber. Jika keadaan biasa tanpa gangguan maka ia bergerak tanpa
formasi alias kocar-kacir tanpa tujuan semua gerakannya.
Tikus-tikus pithi menyusun barisan
bila mereka sedang kelaparan hebat, karena musim paceklik atau sarangnya
diobrak-abrik dan digusur, dan juga berubah agresif tatkala mereka mendapat
mangsa empuk.
Semasa Sri Aji Joyoboyo memerintah
di Kediri tikus pithi sebagai julukan pada anak-anak remaja yang beranjak
dewasa, tidak lagi merah tapi sudah bersemu kehitaman. Tikus dalam konteks
ramalan bisa sebagai perlambang kaum muda, angkatan muda, atau pemuda dalam
lingkup pusat kerajaan Kediri. Sri Aji Joyoboyo sangat membutuhkan pasukan laut
terutama bertugas sebagai prajurit dan paling dapat dipercaya tentu pemuda
setempat dan di samping itu suara mereka benar-benar diperhitungkan dalam
percaturan politik kerajaan.
Kerajaan laut tapi berpusat di
pedalaman itu menguasai daerah pengaruh meliputi Jambi di pulau Sumatra,
Kalimantan, Bali, dan Tidore, sehingga selalu memperkuat pasukan laut demi
keperluan menjaga wibawa kerajaan di wilayah pengaruhnya. Angkatan muda
mendapat porsi lebih untuk diterima sebagai abdi negara. Dengan strategi
sedemikian rupa membuka peluang bagi pemuda, maka tidak ada gerakan pemuda yang
berusaha untuk menggalang persatuan merongrong kekuasaan sang Prabu Joyoboyo.
Sejarah kemudian mencatat pada 1222,
seratus tahun sejak kekuasaan Sri Aji Joyoboyo di mana angkatan mudanya sudah
kurang mendapatkan porsi dalam pemerintahan, tiba-tiba dari suatu daerah kurang
lebih limapuluh kilometer arah ke Timur kerajaan Kediri, gerakan pemuda
pimpinan Arok membariskan pasukannya menggempur Kediri. Panglima perang
kerajaan Kediri Mahesa Wulung adik dari raja Dandang Gendis atau Krtajaya tewas
di Ganter sehingga pasukan Kediri menelan kekalahan dalam pertempuran melawan
pasukan Arok.
Arok tercatat sebagai orang pertama
yang memimpin pemberontakan atau kudeta dengan hasil gemilang dalam sejarah
Nusantara.
Adanya ramalan tikus pithi anoto
baris ditafsirkan sebagai pemberontakan bersenjata rakyat dari segenap penjuru
Nusantara adalah mustahil, kecuali dilakukan oleh unsur militer yang menguasai
senjata. Rakyat jelata jelas tidak punya senjata api dalam jumlah cukup untuk
mengadakan pemberontakan skala besar.
Kaum muda memang mulai mengorganisir
diri akan tetapi terpecah-pecah dan berorientasi ke berbagai jurusan,
masing-masing berkutat di dalam kelompok sendiri. Mereka berwarna-warni
idealismenya ada merah, hijau, biru, kuning, dan merah jambu serta
mengelompokkan di sebagai kiri, tengah, dan kanan. Ibarat dalam jejer wayang
mereka saling berseberangan sehingga mudah diadu-dombakan.
Angkatan muda memang selalu tampil
dalam setiap goro-goro dalam pemerintahan RI, dan keberhasilan mereka selalu
berpindah tangan dan diambil alih pihak lain. Peranan mereka kembali cuma
penggembira yang tidak mampu memfoloup hasil gerakannya yang berhasil.
Sepertinya mereka mulai menyadari hal demikian, dan mulai memasang strategi
baru. Demo damai yang berubah anarkis mudah sekali ditumpas, atau mengambil
jalan parlementer yang memerlukan waktu panjang dalam meraih kemenangan. Hingga
pada akhirnya yang paling mudah bagi angkatan muda dengan jalan mengumpulkan
opini massa menggunakan jejaring sosial digital.
Jadi "tikus phiti anoto
baris" berarti angkatan muda menyusun barisan. Bukan barisan pemberontakan
bersenjata, bukan demo anarchi, dan bukan menunggu waktu generasi tua
menyerahkan kekuasaan kepada angkatan muda. Sehingga angkatan muda menjadi
angkatan tua. Pemuda maju lain lagi masih memiliki kekuatan kecil dalam
mendukung gerakan perubahan sistemik, dalam pada itu idealisme pilihan mereka
belum mampu mempersatukan kekuatan dari berbagai elemen. Idea-idea pemersatu
yang sudah tersedia antara lain Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, atau Nasakom,
sejak era Majapahit hingga Kemerdekaan RI dan pasca kemerdekaan. Sekarang idea
terakhir itu sudah pincang, karena salah satu kakinya buntung. Sedangkan idea
yang lain diselewengkan menurut kepentingan penguasa sendiri. Adalah tugas
angkatan muda membikin utuh dan memurnikan kembali seperti sediakala semua idea
yang dicetuskan dan diajarkan oleh para pemimpin Nusantara sesuai jamannya itu.
Kelak dengan berhasilnya angkatan
muda menyusun barisan bersama untuk tujuan bersama memurnikan semua idea
pemersatu dan mampu mewujudkannya dalam aksi, maka makna sesungguhnya ramalan
Joyoboyo ketujuh itu terbuktilah kebenarannya.
Ada pula yang menafsirkan Tikus
Pithi anoto baris adalah Gerakan Mahasiswa yang menurunkan kekuasaan Presiden
Suharto 1998 silam.
RAMALAN KEDELAPAN : "Kembalinya
Titisan Noyo Genggong Sabdo Palon"
Dua pendeta penasihat sekaligus
punakawan kerajaan Majapahit ini memang bukan tokoh sembarangan. Selama ini
ditafsirkan sebagai makhluk halus. Wadag atau tubuhnya memang sebagaimana
lazimnya orang biasa. Roh halus atau roh gaibnya yang luarbiasa, ia mampu bereinkarnasi
ribuan kali sejak manusia pertama tinggal di bumi.
Sebagai pendeta Buddha Jawa (Jowo
Sanyoto, agama negara Majapahit) utama di kerajaan Majapahit ilmu agamanya
sempurna bahkan lebih sempurna dibanding para pengikut utama Dalai Lama di
Tibet. Dari jaman ke jaman Sabdo Palon* terus-menerus berganti raga (wadag),
yakni pada saat raganya memang sudah tua dan meninggal dunia.
Wadag baru pilihan itu tidak atas
kemauan pribadi roh Sabdo Palon akan tetapi atas kehendak Sang Hyang Wenang ing
Jagad.
Ramalan Sri Aji Joyoboyo kedelapan
bahwa Sabdo Palon akan kembali ke Nusantara, tentu ditafsirkan Sabdo Palon
kelak berkiprah kembali sebagai pendamping dan penasihat daripada pemimpin
negeri suatu kerajaan.
Tatkala Majapahit pada era
keruntuhannya sekitar 1478, di hadapan Prabu Brawijaya yang berganti haluan
memeluk Islam sedangkan Sabdo Palon tetap bertahan sebagai titah dengan Jowo
Sanyoto sebelum murca (lenyap) Sabdo Palon berjanji, "Yang Mulia, kita
ditakdirkan untuk berpisah, tetapi harap Yang Mulia ingat limaratus tahun lagi
aku akan kembali ke marcapada
Semasa jaman Majapahit dalam
wasiatnya Sabdo Palon mengatakan, "Hanya atas kehendak Sang Hyang Wenang
ing Jagad yang maha menentukan manusia pilihan sebagai wadag baru Sabdo
Palon." Prosesnya perpindahan Sabdo Palon ke wadag baru berbeda dengan
reinkarnasi pendeta Buddha Tibet. Sabdo Palon memasuki tubuh remaja atau dewasa
yang telah ditakdirkan Sang Hyang Wenang ing Jagad meninggal dunia dan atas
kehendakNya pula tubuh tersebut hidup kembali sebagai reinkarnasi Sabdo Palon
baru dengan nama baru.
"Kejayaan Nusantara yang lebih
dahsyat daripada kerajaan Majapahit terwujud bila dunia mengalami goro-goro
besar semacam perang dunia dahsyat atau bencana alam berskala besar, misalnya
jatuhnya benda angkasa, meletusnya gunung berapi, dan lain-lain. Usai goro-goro
terjadi maka dunia akan kembali seperti sediakala. Pada saat itulah tatanan
politik dunia baru akan terbentuk dan jauh berbeda dari peta dunia modern
sebelumnya. Pasca goro-goro itulah di Nusantara akan muncul Ratu adil dan Sabdo
Palon berdampingan menentukan nasib Nusantara dan bumi bagian selatan (Man
Yang) dalam satu tata pusat pemerintahan baru,
Kapankah terjadinya goro-goro besar
dan munculnya ratu adil? Pertanyaan itu akan terjawab setelah ada jawaban atas
pertanyaan berikut, "Siapakah yang kini dipilih Tuhan menjadi manusia
pilihan-Nya ?
Komentar
Posting Komentar