Cerita Batu Suci di Gunung Tidar
Kisah Walisanga banyak ditulis di Babad Tanah Jawi. Salah
satu ceritanya tentang Syekh Subakir. Dikisahkan, bahwa sudah beberapa
kali utusan dari Arab didatangkan untuk menyebarkan Agama Islam di tanah
Jawa tapi selalu gagal.
Kegagalan itu disebabkan karena orang-orang Jawa pada waktu itu masih
kokoh memegang kepercayaan lama. Masyarakat masih senang menyembah
barang-barang bertuah dan ruh-ruh
Maka diutus Syeh Subakir yang dikenal memang sakti mandraguna. Beliau diutus secara khusus menangani masalah-masalah yang terkait mistis dan spiritual. Sebab, hal ini dinilai telah menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat yang masih suka mistik.
Konon kabarnya Subakir membawa batu hitam yang dipasang di seluruh Nusantara. Di Pulau Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar, Magelang. Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk: jin, setan dan mahluk halus lainnya.
Syeh Subakir mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “Ya Syekh, walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami dan kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku, ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syeh Subakir. Kata jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.
Makam Syekh Subakir, anggota Dewan Walisanga pertama di Gunung Tidar, Magelang.
Tidak salah bila kemudian, gunung Tidar dikenal dengan paku tanah
jawa. Gunung itu terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada
ketinggian 503 meter dari permukaan laut, Gunung Tidar memiliki sejarah
dalam perjuangan bangsa. Di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai
kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri
pada 11 November 1957.
Di puncak Gunung Tidar ada lapangan yang
cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan
simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada
tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa
Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang
sebagai pakunya tanah jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan
aman.
Gunung Tidar tidak hanya terkenal sebagai ikon atau identitas Kota
Magelang. Bagi sebagian orang yang memang suka lelaku spiritual , gunung
Tidar merupakan salah satu objek yang menjadi tempat tujuan mereka
untuk tirakat. Dahulu, Gunung Tidar terkenal angker dan diyakini menjadi
rumah bagi para jin dan makhluk halus. Jalmo Moro Jalmo Mati, setiap
orang yang datang ke Gunung Tidar bisa dipastikan tidak akan kembali.Berdasarkan penuturan juru kunci gunung Tidar, terdapat dua makam yaitu makam Kyai Sepanjang dan makam Sang Hyang Ismoyo atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Semar. Sedangkan tempat yang selama ini dikenal sebagai Makam Syekh Subakir sebenarnya hanyalah petilasan.
Ia dikenal sebagai wali Allah yang menaklukkan jin di gunung Tidar sehingga para makhluk halus tersebut ‘mengungsi’ ke Pantai Selatan, tempat Nyai Roro Kidul. Setelah berhasil menaklukkan lelembut, Syekh Subakir kembali ke tanah asalnya di Rom (Baghdad).
Di petilasan Syekh Subakir ini tersedia musala kecil dan pendopo. Petilasan Syekh Subakir sebelumnya ditandai dengan adanya kijing yang terbuat dari kayu.
Setelah dipugar, kijing tersebut diletakkan di pendopo dan diganti dengan batu fosil yang berasal dari Tulung Agung serta dikelilingi pagar tembok yang berbentuk lingkaran dan tanpa atap. Pada tahap berikutnya, kedudukan Syekh Subakir, sebagai salah satu Walisanga digantikan oleh Sunan Kalijaga
Komentar
Posting Komentar